Logo
Blog G  O  Y  A  H goyah

G O Y A H

HOME /
G O Y A H

Blog

G  O  Y  A  H

G O Y A H

Belum lama ini dunia kekristenan mengalami guncangan, bukan cuma sekali tetapi tiga kali berturut-turut.

Tgl 18 Juli 2019, pendeta Joshua Harris mengumumkan perceraiannya dari istrinya. Joshua Harris bukan nama ecek-ecek di dunia kekristenan seperti Sukirno Tarjadi. Buku pertamanya yang berjudul I Kissed Dating Goodbye terjual jutaan jilid. Selama 11 tahun, dia menggembalakan satu sidang jemaat dengan anggota sebanyak 3000 jiwa.

Tgl 26 Juli 2019, Joshua Harris kembali membuat kejuatan. Dia menyatakan dirinya bukan kristen lagi. Dia bahkan muncul di parade LGBT di Vancouver.

Tgl 10 Agustus 2019, pemimpin penyembahan di gereja Hillsong Sydney, Marty Sampson, mengumumkan bahwa dia kehilangan iman percayanya.

Pdt Albert Mohler, rektor seminari The Southern Baptist Theological Seminary dan seorang Kalvinis, memberikan respons khas dari sudut pandang Kalvinis: They were pretend believers. (Mereka orang percaya palsu/pura-pura percaya). Mereka kelihatannya saja kristen, tapi itu kristen palsu. Mereka kelihatan percaya tapi itu bohong saja, pura-pura. Pernyataan Mohler ini menimbulkan pertanyaan: kalau yang sudah jadi gembala sidang 11 tahun saja ternyata bisa palsu, bagaimana caranya kita bisa tahu siapa yang asli, termasuk diri kita sendiri?? Akhirnya kita harus menunggu orang meninggal dulu baru kita bisa tahu apakah dia asli kristen atau tidak. Dengan kata lain, tidak ada kepastian tentang iman seseorang. Anda sekarang kelihatan sungguh-sungguh kristen, bahkan jadi pendeta, tapi bisa saja anda ini palsu…
Saya rasa terlalu riskan untuk menuduh iman seseorang palsu pada saat dia menjadi murtad.

Marty Sampson belakangan memberikan klarifikasi bahwa dia tidak meninggalkan kekristenan. Menurut dia: My faith is on an incredibly shaky ground (Iman saya ada pada dasar yang sangat goyah).
Saya rasa ini penjelasan yang lebih Alkitabiah: iman orang-orang ini tidak cukup kuat. Ketika keraguan muncul, atau masalah timbul, atau godaan yang kuat menerpa, iman mereka langsung goyah.

Rasul Paulus menulis di Kolose: Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. (Kolese 2:6).
Artinya jelas: bisa saja orang menerima Kristus tetapi kemudian tidak tetap ada di dalam Kristus. Sesuatu terjadi yang membuat dia meninggalkan Kristus, bukan Kristus yang meninggalkan dia.

Bagaimana caranya untuk tetap ada dalam Kristus?
Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur. (Kolese 2:7).

Satu: berakar dalam Kristus. Dua: dibangun di atas Kristus.
Berakar dalam Kristus adalah aktif. Kita melakukan proses pengakaran ini.
Dibangun di atas Kristus adalah pasif. Kita menjadi obyek yang dibangun.

Saudara sekalian, akar kita harus ada pada Kristus. Ibaratnya, Kristus menjadi tanah tempat akar kita berpegang dan tempat akar kita menemukan makanan yang akan membuat kita bertumbuh. Kalau kita terus melakukan ini, kita akan bertumbuh dan akar kita akan kuat, karena tanah tempat kita menempatkan akar kita adalah tanah yang mantap, dapat diandalkan, tidak pernah goyah. Setiap hari, kita membangun hubungan dengan Kristus melalui saat teduh kita.

Seseorang juga harus dibangun di atas dasar Kristus. Kita tidak bisa seperti begini terus. Dalam Kristus kita harus terus dibangun oleh Firman Tuhan dan karya Roh Kudus. Pembangunan kerohanian ini harus ada pada fondasi yang kuat. Dan tidak ada fondasi yang kuat selain Kristus. Semua fondasi lain hanyalah pasir semata. Ketika goncangan datang, kerohanian kita akan tetap kokoh karena fondasinya kokoh.
Maka seperti kata Kolose: …kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu,…

Kita tidak tahu persis apa yang terjadi pada Joshua Harris dan Marty Sampson, tapi kita tidak perlu kaget. Dari awal kekristenan, sudah ada orang-orang yang meninggalkan iman. Rasul Paulus menulis demikian di 2 Timotius 4:10: karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Sekelas Rasulpun ternyata juga mengalami hal ini dengan muridnya.

Kita yang melihat semua ini, harus mengingat-ingat apa kata penulis Ibrani 12:38-39:
Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya.”
Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup.

Adalah patut untuk kita mendoakan orang-orang yang demikian supaya kasih karunia Allah dinyatakan atas mereka, sehingga mereka suatu hari akan kembali sebagai anak yang hilang. Amin.
Blog G  O  Y  A  H

Latest Blog

T  E  K  A  N  A  NT E K A N A N
Salah satu ciri khas hidup masa kini adalah tekanan dan pergumulan. Semua kita pernah mengalami satu hal yang membuat frustrasi, stress, capek dll. Ini pengalaman normal dalam kehidupan manusia. Tapi kalau terjadi terus menerus, hal-hal ini akan menekan jiwa seseorang. Pergumulan kejiwaan bisa berbentuk macam-macam: stress, depresi, kecemasan, kesepian, dll.
J A R R I D
Mendengar berita orang meninggal dalam usia muda selalu mengagetkan.
Mendengar berita orang meninggal bunuh diri lebih mengagetkan.
Mendengar berita pendeta meninggal bunuh diri? Seperti mendengar halilintar di siang hari bolong.
K E B I A S A A N
Ada seseorang yang menulis di Instagram: “Proyek terbaik yang bisa anda lakukan adalah diri anda sendiri.” Saya ingin mengubah sedikit kalimat ini: “Proyek TERPENTING yang HARUS anda lakukan adalah diri anda sendiri.”