Logo
Blog M  E  L  O  N melon

M E L O N

HOME /
M E L O N

Blog

M  E  L  O  N

M E L O N

Tetapi berkatalah raja kepada Arauna: “Bukan begitu, melainkan aku mau membelinya dari padamu dengan membayar harganya, sebab aku tidak mau mempersembahkan kepada Tuhan, Allahku, korban bakaran dengan tidak membayar apa-apa.” Sesudah itu Daud membeli tempat pengirikan dan lembu-lembu itu dengan harga lima puluh syikal perak. (2 Sam 24:24)

Melon termahal di dunia adanya di Jepang. Harga satu pasang melon tersebut adalah sekitar Rp 400 juta atau Rp 200 juta per buah. Apa yang istimewa dari melon ini? Yah, ini sebenarnya melon biasa. Manis sekali (kata orang), bentuknya bagus tidak pletat pletot, dijaga dan dirawat dengan baik oleh petaninya. Tapi tetap melon biasa. Lalu…apa yang bikin melon ini bisa begitu mahal?

Kantor berita CNN memberikan jawabannya: melon itu mahal karena melon itu untuk dipersembahkan kepada dewa. Jawaban ini menggambarkan pola pikir dan nilai-nilai kerohanian orang Jepang. Kalau hanya untuk makan sendiri, beli aja melon di Pasar Kopro. Tapi untuk dewa? Kita harus kasih yang terbaik. Bagi orang Jepang, dewa berhak mendapatkan yang terbaik (yang otomatis berarti yang paling mahal).

Apakah saudara memiliki juga nilai hidup yang demikian? Atau justru kebalikannya? Untuk diri sendiri royalnya minta ampun. Giliran untuk Tuhan? Kasih saja sisa-sisa.
Di kitab 2 Samuel pasal 24, raja Daud lagi stress berat. Dia melakukan satu kesalahan besar di mata Tuhan (yang mungkin di mata manusia dianggap biasa): dia melakukan sensus. Kenapa sensus menjadi masalah? Karena sensus menjadi alat kesombongan untuk menunjukkan kekuatan.

Karena kesalahan Daud ini, terjadilah malapetaka atas rakyat Israel. Ini menunjukkan betapa pentingnya seorang pemimpin memastikan bahwa keputusan yang dia ambil adalah benar.

Raja kemudian mendirikan mezbah atas saran nabi. Lokasi mezbah adalah tempat pengirikan gandum milik Arauna, orang Yebus. Arauna tidak berniat menjual tempat itu. Tetapi dia menawarkan untuk menyumbangkan tanahnya itu secara cuma-cuma kepada raja. Tetapi bacaan kita di atas menunjukkan satu sisi Daud yang luar biasa: “…aku tidak mau mempersembahkan kepada Tuhan, Allahku, korban bakaran dengan tidak membayar apa-apa.”

Dia tidak mau mempersembahkan kepada Tuhan sesuatu yang gratisan. Dia mentaati satu perintah yang dinyatakan di Ulangan 16:16: “…Janganlah ia menghadap hadirat Tuhan dengan tangan hampa,”.

Saya yakin saudara semua tidak ada yang datang dengan tangan kosong ketika menghadap Tuhan. Saudara pasti membawa sesuatu untuk Tuhan. Pertanyaannya adalah: apakah yang kita bawa ini yang terbaik?
Ulangan 17:1: Janganlah engkau mempersembahkan bagi Tuhan, Allahmu, lembu atau domba, yang ada cacatnya, atau sesuatu yang buruk; sebab yang demikian adalah kekejian bagi Tuhan, Allahmu.”

Jelas sekali perintah di Firman Tuhan: berikan yang terbaik untuk Tuhan.
Bagaimana kita mengukur bahwa sesuatu adalah terbaik? Saudara sendiri pasti tahu. Hati nurani berbicara.

Saya berbincang dengan seorang pengusaha kelas paus. Dia berkata demikian, “Dulu saya selalu berkata bahwa saya memberikan persembahan kepada Tuhan. Sekarang saya mengubah kata kata saya. Saya mengembalikan sebagian kecil berkat yang Tuhan sudah berikan kepada saya.” Dia melanjutkan perkataanya, “Saya bukan memberi. Saya mengembalikan. Dan saya tahu persis bahwa apa yang saya kembalikan ini sebenarnya kecil sekali dibandingkan dengan apa yang saya terima.” Ini orang jujur.

Tapi sebagai patokan, suatu pemberian yang terbaik harus berbentuk korban. Sesuatu adalah pengorbanan artinya ada unsur rasa sakit. Ada sesuatu yang harus dikurangi demi bisa memberi kepada Tuhan.

Kenapa kita mesti memberi yang terbaik?

Satu: karena Tuhan sudah memberi yang terbaik untuk kita (Yoh 3:16). Keselamatan, berkat, penyertaan, bahkan sorga tersedia untuk kita. Kita diberi kesempatan tinggal dalam rumah Tuhan di sorga bersama-sama Dia sampai selama-lamanya.

Dua: karena ketika kita memberi, kita akan diberkati. Hukum tabur tuai berlaku dengan nyata di sini (Luk 6:38).

Tiga: karena kita mengasihi Tuhan (Mat 22:37). Kalaupun hukum tabur tuai tidak berlaku, kita tetap akan memberi yang terbaik untuk Tuhan, karena kita mengasihi Dia.

Mari kita mulai dari diri kita.
Mari kita mulai hari ini.
Berikan yang terbaik untuk Tuhan.
Blog M  E  L  O  N

Latest Blog

L  E  T    G  OL E T G O
Clarence Jackson menang lotere pada bulan Oktober 1995. Jumlah kemenangannya adalah US$ 5.8 juta alias sekitar Rp 81 milyar. Jumlah uang yang sangat amat banyak
Masalahnya adalah Clarence lupa memeriksa tiket lotere miliknya, sehingga dia tidak tahu
D U S T A
Setiap bulan November, di daerah Cumbria di Inggris, tepatnya di desa Santon Bridge, para tukang bohong dari berbagai negara berkumpul untuk mengadu ilmu berbohong mereka. Acaranya adalah World’s Biggest Liar Competition atau Lomba Pembohong Terbesar Dunia
K A N D A N G
Pada jaman itu, menurut Kenneth Bailey dalam bukunya ‘The Cross and the Prodigal’, apabila seseorang menghabiskan hartanya di kalangan orang non-Yahudi dan dia pulang ke kampung dalam keadaan miskin, maka orang kampung akan melakukan upacara yang namanya ‘kezazah’.