Logo
Blog T  E  T  A  P  I persistence  tapi

T E T A P I

HOME /
T E T A P I

Blog

T  E  T  A  P  I

T E T A P I

Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:
(Ratapan 3:21)

Kitab Ratapan adalah kitab yang unik. Di Perjanjian Lama, kitab-kitab lain berisi cerita tentang perjuangan para pahlawan atau pemerintahan para raja atau nubuatan para nabi. Ratapan berisi catatan tangisan seorang nabi bernama Yeremia. Dia bukan meratapi istrinya (dia tidak menikah), dia bukan meratapi uangnya yang hilang tapi meratapi kota Yerusalem yang hancur dan Bait Suci yang runtuh. Dan bersama dengan hancurnya Yerusalem, hilanglah juga yang namanya negara Israel. Raja ditawan dan rakyat dibuang. Habislah sudah kemuliaan bangsa pilihan Tuhan. Sungguh kitab yang muram, membuat tertekan yang membaca seperti yang menulis, terutama ketika membaca 2 pasal pertama.

Tetapi Ratapan adalah bacaan yang saya anjurkan untuk orang-orang yang sedang menderita, sengsara, bahkan putus asa. Kitab ini adalah kitab pegangan untuk orang-orang yang sedang gamang diterjang persoalan dan bingung menghadapi pergumulan kehidupan. Ini adalah kitab yang sanggup meneduhkan mereka yang sedang ada di tengah badai kehidupan, dan meneguhkan mereka yang sedang goyah dilanda tsunami persoalan.

Kekuatan kitab ini ada di pasal 3. Sampai ayat 20, Yeremia masih terus berkeluh kesah:
19 “Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan ipuh dan racun itu.”
20 Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku.
Di ayat 21, perubahan besar terjadi karena satu kata: TETAPI.
TETAPI atau TAPI adalah kata kecil yang memiliki kekuatan besar.

Dia bisa dipakai untuk hal positif maupun negatif. Coba perhatikan dua kalimat berikut ini.
1. Usul ini bisa membawa perbaikan situasi TAPI bisa juga dimanfaatkan untuk menipu orang.
2. Usul ini bisa dimanfaatkan untuk menipu orang TAPI bisa membawa perbaikan situasi.
Bisa saudara lihat perbedaan antara dua kalimat ini? Kata-kata sesudah ‘TAPI’ adalah kata-kata yang ingin ditekankan dan ditonjolkan.

TAPI mengatakan: “Jangan perhatikan yang barusan. Yang sesudah saya adalah yang penting!” TAPI menghancurkan apa yang disampaikan sebelum dia ada. Semua bujukan dan rujukan sekuat apapun menjadi tidak ada artinya setelah kata TAPI muncul.
TAPI adalah kata favorit seorang petarung yang pantang menyerah. Dia memaksa kita mengalihkan pandangan kita. Dalam hal ini, Yeremia memaksa kita melihat kepada sesuatu yang terbalik. Perhatikan lagi: Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:

Di ayat ini, Yeremia menancapkan bendera perlawanannya. Di sini Yeremia bangkit, menolak menyerah dan menolak kalah.
Setiap orang punya mata, bisa melihat, tetapi tidak setiap orang memperhatikan. Memperhatikan adalah melihat dengan niat, bukan asal melihat. Memperhatikan adalah mengamati dengan saksama.
Apa yang diperhatikan? Ayat 22-25:
22 Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya,
23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!
24 “Tuhan adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.
25 Tuhan adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.

Suasana muram langsung cair setelah kata TETAPI muncul. Fajar pengharapan terbit dan bersinar.
Jadi pada akhirnya semua kembali kepada pilihan: apa yang mau kita perhatikan dalam hidup ini? Kesengsaraan kita atau kasih setia Tuhan? Kekelaman hidup kita atau rahmat dan anugerah-Nya?

Kalau perhatian kita adalah melihat kepada kesengsaraan dan kepahitan hidup kita, jadilah kita terbenam dalam lumpur keputusasaan.
Kalau kita memilih untuk memperhatikan kasih setia Tuhan, maka pengharapan dan kekuatan muncul. Masalah kita masih belum selesai, perjuangan masih panjang, TAPI kekuatan Tuhan tersedia untuk kita meraih kemenangan.
Jalan keluar masih belum terlihat, TAPI saya tahu bahwa Tuhan pasti buka jalan.
Persoalan masih belum selesai, TAPI Tuhan menyertai saya.
Ini adalah kata-kata seorang pemenang!
Blog T  E  T  A  P  I

Latest Blog

K  U  A  S  AK U A S A
Kaisar Jepang, ratu Inggris, raja Belanda atau raja Spanyol (dan yang serupa itu) bukanlah raja atau ratu atau kaisar dalam arti sepenuh-penuhnya. Mereka tidak memiliki kuasa, terutama dalam hal menjalankan pemerintahan.
C O M E B A C K
Awal Mei ini, ketika tim sepakbola Liverpool bertandang ke Barcelona dalam semi final piala Champions, mereka pulang dengan rasa malu, setelah kemasukan 3 gol tanpa bisa membalas. Bukan hanya itu…harapan untuk bisa tampil di final Piala Champions rasanya sudah tertutup
S P O I L E R
Kalau untuk urusan remeh seperti nonton film, urusan spoiler saja bisa bikin orang masuk rumah sakit (atau penjara, kalau kucai mengajukan tuntutan ke pengadilan). Tapi dalam urusan kehidupan, bukankah lebih enak, dan tenang, kalau kita tahu ujung usaha kita seperti apa? Dalam hidup sehari-hari, kita justru mencari spoiler!